Blessing November

It looks like I missed a month of November without even one writing on this blog. Well, I have to say that November is a month of full blessings for me. There are at least two reasons. First, after a struggle which is not easy, I’ve finally graduated as master on November 11, 2013. Second, I’m back home with my beloved family. Actually the second point also becomes a challenge since I have to prove myself to achieve a successful and beneficial to the society. Oh my Lord, please give me the way to achieve it 😉

Advertisements

Would you like …

Would you like me to give you a formula for success? It’s quite simple, really. Double your rate of failure. You are thinking of failure as the enemy of success. But it isn’t at all. You can be discourage by failure – or you can learn from it. So go ahead and make mistakes. Make all you can. Because, remember, that’s where you will find success. –Thomas J. Watson

Lika-liku Tugas Akhir :D

Mengerjakan tugas akhir buat aku adalah hal yang menyenangkan dan mengasikkan sekaligus hal yang menguras perasaan, pikiran, energi, waktu dan biaya. Memang diciptakan sebagai ujian naik tingkat sepertinya. Permasalahan biasanya datang dari berbagai pihak, dari diri sendiri, orang tua, dosen, pihak administrasi, bahkan sekarang ditambah lagi dengan pihak penerbit jurnal.

Masalah dari diri sendiri selalu terkait dengan manajemen waktu dan tingkat kerajinan. Aku sadar aku tidak mahir dalam hal ini, termasuk kategori yang biasa saja. Tingkat kerajinan juga sangat fluktuatif, tergantung kepada gaya tekan atau gaya dorong sehingga menghasilkan gerak yang dipercepat tidak beraturan (*ngawur). Orang tua biasanya menjadi motivator paling besar, tapi terkadang juga memberikan tingkat stress yang paling tinggi. Tidak lain dan tidak bukan untuk segera lulus. Tapi seringkali kondisi di lapangan tidak seindah yang orangtua bayangkan. Mobilitas dosen yang sulit ditemui; mencocokkan jadwal antara dosen-dosen, dosen-mahasiswa, acara dengan ruangan; faktor di luar sistem IPB seperti submit jurnal. Peretelan tersebut biasanya sulit dipahami orangtua, dan sebagai anak, hanya bisa menjelaskan lagi dan lagi dengan bahasa yang dikemas lembut dan tenang. Padahal sebenarnya diri sendiri juga udah gereget dan setelah komunikasi sama ortu berakhir, nangis Bombay dech di kamar. Hahay..

Hubungan dengaan dosen juga menorehkan sekelumit kisah menarik. Tidak hanya dosen pembimbing, menyelesaikan tugas akhir juga berhubungan dengan dosen evaluator saat kolokium dan seminar, dosen penguji saat ujian sidang, dan tentunya ketua departemen. Luar biasanya, dosen-dosen di kampusku tercinta memiliki peran atau tugas ganda yang penting dan berprioritas tinggi. Oleh karenanya, bolak balik ke luar negeri, ke luar pulau, atau ke luar kota menjadi hal yang lazim. Apalah daya mahasiswa seperti aku ini, jika beliau-beliau tidak di tempat, yang aku bisa lakukan berarti ya menunggu dengan koreksi tulisan berputar-putar disitu *nyengir. Namun, dibaliksemua itu, aku bangga dan kagum kepada beliau-beliau, satu satunya seperti yang aku paparkan dalam tulisan berjudul “I do love him”. Haha..

Hal berikutnya terkait penyelesaian tugas akhir adalah administrasi. Kalo ga pinter manage perasaan dan ngatur strategi, siap-siaplah makan ati, hihi. Aku bisa katakan bahwa penyelesaian tugas akhir pasca sarjana di kampus keren ini memang ribet. Segala proses yang berhubungan dengan pengajuan atau permohonan umumnya diberi waktu satu minggu. Oleh karenanya jika akan melakukan kegiatan, sebut saja kolokium, maka minimal harus diajukan seminggu sebelumnya. Tidak ada yang salah, justru hal ini baik untuk kematangan persiapan. Namun jika dosen yang siper sibuk mengajukan dadakan dan alternative waktunya entah kapan, what should we do?  Jawabannya pake jurus sakti. Jurus ini dilengkapi dengan surat sakti dari ketua departemen yang bisa disetujui atau tidak. Bagusnya sih setiap mahasiswa diperlakukan sama. You know what I mean lah.. Dan satu hal yang mungkin bisa jadi saran untuk almamater-ku yang membanggakan ini adalah, ruangan dan segala tek-tek bengek pelaksanaan kegiatan penyelesaian tugas akhir sebaiknya dikoordinir oleh kampus atau departemen. Fakta yang terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa harus memeriksa dan menyiapkan kesiapan ruangan, konsumsi, LCD, surat undangan dan lain sebagainya. Padahal dengan materi yang akan dipresentasikan saja sudah cukup membuat kepala nguing-nguing. Strategi yang dapat dilakukan adalah “manfaatkan teman”. Hahaha.. bersyukurkan wahai kamu-kamu yang memiliki teman dengan jiwa sosial tinggi 😀

Satu tambahan penting yang kudu dibahas adalah terkait dengan kewajiban menulis jurnal. Berdasarkan term tertentu mahasiswa dikenakan syarat yang berbeda, lebih awal selesai, lebih mudah syarat. Sampai dengan bulan juli 2013, mahasiswa dikenakan syarat submit, dimulai agustus sampai dengan Desember 2013 syaratnya meningkat menjadi review, dan lepas tanggal tersebut menjadi publish. Semuanya dilakukan di lembaga jurnal terakreditasi nasional untuk S2 dan jurnal internasional untuk S3. Fiuhhh.. Ini persyaratan yang membuat banyak mahasiswa kelabakan. Pasalnya, ketika mahasiswa sudah menyelesaikan tugas akhir pun, jika belum memenuhi syarat tersebut, Surat Keterangan Lulus atau Ijazahnya tetap tidak akan diterbitkan, Huhuhu.. Kebijakan ini sepertinya harus ditinjau lebih jauh. Pemerintah yang mengeluarkan syarat jurnal harus menentukan sikap, sistem kelulusan ini akan berkiblat kemana? Sistem course seperti US, ataukah research seperti Jepang. Tapi tidak mengkolaborasikan keduanya, itu terlalu superrr dan bikin kelengerr 😀

Saat ini, aku cukup galau karena menunggu “lagi” revisi dari dosen yang “entah kapan” selesai. Aku tidak bisa memaksa karena dosen tentu memiliki hak prerogative. Anyway, apapun dan bagaimanapun prosesnya, semua adalah pembelajaran yang sangat bermakna. Well, Tugas akhir adalah kolaborasi antara kerja keras, kerja cerdas, doa, dan tawakal. Aku bersyukur telah sampai ke tahap ini. Mari tetap bersemangat dan berfikir positif. Ganbaruu ^^

Exercise

Setiap hari dalam dua minggu terakhir aku meluangkan waktu untuk berolahraga. Awal mulanya aku terinspirasi oleh temanku yang berasal dari Jepang yang gemar sekali berolahraga, namanya Ryota Kojima. Aku bertemu dengannya saat mengikuti international summer course beberapa minggu yang lalu. Kulitnya begitu bersinar dan terlihat sangat sehat. Akhirnya aku bertekad untuk berolahraga tiap hari, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memelihara kesehatan dan memiliki kulit sebagus dia, hehe..*ngarep

Pagi atau sore hari aku biasanya lari selama 30 menit. Setelah dua pekan, aku ingin meningkatkan skill, hehe.. tapi apa ya. Kemudian aku teringat dengan temanku yang hobi yoga dan terlihat begitu awet muda, namanya Mbak Dessy, beliau sekarang sedang study di Jerman. Akhirnya aku coba browsing dan download video yoga di Youtube. Cukup bagus videonya, dari Ekhart yoga. Aku coba ikuti tuh video, judulnya yoga for love handles, hehe.. alamaak,, susah kali gerakannya. Satu dua hari pertama badanku pegal semua. Mungkin ada gerakan yang salah dan belum terbiasa. Akhirnya aku minum jamu gendong beras kencur langgananku, hehe..
Setelah beberapa hari menjalani, kini aku mulai terbiasa. Lari 30 menit dan yoga kurang lebih 15 menit. Lumayan lah bikin badan berkeringat. Jadi terasa lebih enteng dan segar. Well, thanks to Ryota Kojima and Mbak Dessy for being my inspiration ^^. 

Happy birthday ‘Quini Me’ ^u^

Dan genap sudah dua puluh enam tahun aku hidup di dunia ini. Apa yang telah aku lakukan untuk diriku? Keluargaku? Bangsaku? Nampaknya masih jauh dari target yang ingin kucapai. Bahkan untuk seorang pendamping yang awalnya kutargetkan 23 tahun sudah kumiliki, sampai saat ini siluet pemilik “rangka rusuk” aku itu pun entah seperti apa. He.. Well, aku berharap menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala hal tentunya. Semoga daftar doa-ku yang panjang itu Alloh kabulkan satu persatu. Usia baru, semangat baru. Semoga semakin berkah ya Alloh.. Jadikan aku hamba-Mu yang sholehah, cantik, lucu, pintar, dan tentunya selalu Engkau cintai. Semoga kesehatan dan kesejahteraan selalu tercurah padaku, ayah dan ibuku, keluargaku, serta saudara muslim yang ada di seluruh penjuru dunia.. Aamiin ya Rabbal’alaiim.. Kabulkan doaku ini yaa Rabb-ku.. 😉

I Do Love Him

Nampaknya aku akan mengenang 13 Juli 2013 yang bertepatan dengan 5 Ramadhan 1434 H sebagai salah satu hari yang bersejarah. Di hari tersebut aku melaksanakan sidkom 2, sebelum aku melangkah ke tahap selanjutnya yaitu seminar untuk menyelesaikan tugas akhirku. Pak ganteng, begitu aku menyebut dosen pembimbingku, menyempatkan waktunya yang amat sangat berharga untuk menghadiri sidkomku. Setelah beberapa kali di reschedule baik perihal tanggal ataupun jam, akhirnya terpilih tanggal tersebut pada pukul 14.00 WIB. Aku tidak merasa kesal berulang kali di undur jadwalnya, karena aku tau aku bersaing dengan seorang presiden. Dan kemudian aku sadar, jarak aku dan Pak Presiden begitu dekat, hanya berjarak Pak Ganteng, dan aku berfikir bahwa aku berinteraksi dengan orang yang sangat amat keren.

Dengan baju batiknya yang menawan, beliau masuk ke ruangan dengan tegap, diikuti oleh dosen pembimbingku yang lain. tidak banyak bicara, hanya sedikit kalimat pengantar dan “Ayo presentasi Aliya”, sepertinya memang beliau akan ada acara lain setelah sidang kabinet dadakan­-nya di bandara. Luar biasa memang, disela kesibukannya beliau menyempatkan waktu untuk mahasiswinya yang mungkin tidak sepenting orang-orang penting yang ditemuinya. Selama presentasi berlangsung, walaupun beliau sibuk dengan berbagai panggilan masuk, tetapi konsentrasinya untuk me-nyidang aku tetap terjaga dengan baik, terbukti dengan kritik dan masukan yang dilontarkan terkait dengan apa yang aku sampaikan.

Beliau, menyederhanakan hal-hal yang rumit dan menyelesaikannya dengan excellent. Tidak pernah merendahkan orang yang kelasnya berada di bawah beliau, tidak pernah menghujat ketika orang disekelilingnya keliru, bahkan hal yang paling sederhana sekalipun,, selalu membalas setiap sms yang dikirim mahasiswanya. Menurutku, itu semua seksi. Kekagumanku pada beliau semakin dan semakin parah. Jika aku berlebihan, ya aku sadari itu benar. Tapi ya Alloh, aku memang tak bisa menolak bahwa aku sayang beliau. Walaupun aku mungkin tak pernah menjadi bagian penting di kehidupan Pak ganteng, tapi aku benar-benar menyayanginya, rasa yang sama seperti yang kurasakan terhadap ayahku. Satu hal yang aku lakukan untuknya adalah “Lindungi beliau dan berikanlah hidayah_Mu padanya Rabb”.